Makalah Manusia dan Kebudayaan Kalimantan Warisan Budaya Tak Benda Daerah Hulu Sungai Selatan

 
MANUSIA DAN KEBUDAYAAN KALIMANTAN
WARISAN BUDAYA TAK BENDA DAERAH HULU SUNGAI SELATAN

Dosen :
Nasrullah, S.Sos, I,MA

Kelompok:
 Ridha Anggraini       A1A412006
Wahyudi                   A1A412066


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI ANTROPOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2015

Warisan Budaya Tak Benda Daerah Hulu Sungai Selatan

     I.     Kesenian Bapantul
Kesenian Tradisional Bapantul merupakan kesenian lawak yang banyak masyarakat telah mengetahuinya, khususnya masyarakat Hulu Sungai karena memang kesenian ini lahir dan berkembang di kawasan Hulu Sungai dan berkembang seiring dengan tarian Bagandut, Batopeng Wayang dan Bakuntau. Biasanya di perkampungan yang masih kental dengan suasana tradisionalnya masih menyimpan bentuk-bentuk kesenian semacam ini dan biasanya yang mengelola terdiri dari satu tokoh adat yang memiliki kekuatan irasional dan hirarki yang kuat di kalangan masyarakatnya, walaupun demikian tokoh/ kepala adat ini tidak berada dalam status politik yang terorganisir secara resmi, ia hanya menjadi tokoh yang cukup disegani dan memiliki kharismatik tersendiri.Biasanya cerita yang ditampilkan adalah cerita sehari-hari dalam kehidupan masyrakatnya yang biasanya berhubungan dengan mata pencaharian masyrakat Tapin, seperti Paunjunan (orang yang senang memancing), Tukang Iwak (orang yang berjualan ikan), Panungkihan (orang yang mencari kayu) dan lain-lain. Disamping pola ceritanya yang cukup sederhana, ada pula segi positif dari Kesenian Tradisional Bapantul, biasanya pemeran/pemain/seniaman dari kesenian ini membumbui ceritanya dengan pesan-pesan moral yang disampaikan untuk para penonton. Pesan moral ini bervariasi sesuai dengan perkembangan jaman yang ada, seperti pesan yang ditujukan untuk para generasi muda, bahwa mereka harus menjauhi obat-obatan terlarang dan belajar yang rajin agar mampu membangun bangsa ini. Hal-hal inilah yang cukup unik dalam kesenian ini karena dalam kesenian tradisional biasanya hanya menampilkan ciri khas kesenian itu, baik itu unsur tradisionalnya, budaya, mistik, dan pola cerita. 

Kondisi geografis Tapin yang basik utamanya adalah pertanian, membuat Kesenian Tradisional Bapantul ini mampu berkembang dan bertahan walaupun pasang-surut kadang-kadang bisa terjadi. Sistem pertanian yang ada di Tapin pada umumnya memakai sistem pertanian tadah hujan, sistem ini mengandalkan curah hujan yang tinggi. Proses pertanian dapat terjadi dalam beberapa tahap, yaitu masa mengolah tanah (dilakukan saat musim hujan mulai datang) dan masa menanam benih (manaradak), masa menam tunas-tunas padi disawah, masa pemeliharaan padi, masa panen dan masa menunggu curah hujan datang kembali. Pada masa menunggu inilah biasanya para petani mengembangkan berbagai kesenian tradisional yang termasuk salah satunya adalah Kesenian Tradisional Bapantul ini. Setelah beberapa masa para petani terus bekerja dengan keras, tentunya para petani ini butuh hiburan yang segar sambil menunggu masa mengolah tanah dan manaradak.

  II.     Sistem pengetahuan
a.      Asal Mula Nama Kandangan
Asal mula nama kota Kandangan memiliki 2 versi, (1) konon pada masa kerajaan Banjar terdapat suatu wilayah (nagaradaha) yang dijadikan sebagai tempat pemeliharaan kerbau. Kerbau di Hulu Sungai disebut juga hadangan. Wilayah tersebut banyak terdapat kandang kerbau atau kandang hadangan. Kemudia lama kelamaan daerah tersebut berubah menjadi Kandangan, (2) pada masa kerajaan Banjar suatu komunitas penduduk yang memaklumatkan ketidaksetujuan mereka atas kekuasaan Patih Lambung Mangkurat lalu mereka membuat benteng/kandang (kandang diartikan pagar dari kayu/papan yang menunjukkan batas wilayah mereka). Sebutan bagi orang-orang yang berada di dalam kandang/benteng itu disebut orang-orang kandangan.

b.      Penyebutan Kandangan Sebagai Bumi Antaluddin
Bermula dari sejarah seorang tokoh pahlawan yang bernama Antaluddin yang mempertahankan benteng di gunung madang kandangan pada tahun 1860 Masehi dalam perang madang.

   III.     Bahasa
Kandangan dari logat pengucapannya terbilang lebih lantang dan kasar, pada orang Kandangan kata-kata tertentu pasti menyisipkan kata imbuhan ah dalam akhiran katanya, seperti contoh kalimat sebagai berikut:
a.         Logat bahasa Kandangan cing ai selalu di identikkan bahwa yang bersangkutan berasal dari Kandangan, walaupun terkadang makna dari kalimat tersebut berkonotasi negatif yaitu bahwa orang tersebut jagau (jago).
b.        Logat bahasa Kandangan hagan apa sampiyan mahadang di sia, hidin hudah hampai di rumah hampian. Artinya untuk apa kamu menunggu di sini, dia sudah sampai di rumahmu.
c.         Logat bahasa Kandangan napangkahni tanganku pina karijat karijut, ada rajaki nangapangkah nih jar urang tu masi. Artinya kenapakah tanganku hingga bergerak-gerak kata orang bisa ada rezeki apakah.
d.        Logat bahasa Kandangan kasihan urang tuhaku kucang kirap mancari akan duit hagan bayar sakulahku. Artinya kasihan orang tuaku bersusah payah mencarikan uang untuk biaya sekolahku.
e.         Logat bahasa Kandangan jauh hah lagi hanyar sampai, aku ngangal sudah bajalan nah batis. Artinya masih jauhkah lagi, sudah lelah berjalan kaki.
 


Print Friendly and PDF

0 Response to "Makalah Manusia dan Kebudayaan Kalimantan Warisan Budaya Tak Benda Daerah Hulu Sungai Selatan"

Post a Comment